Pages

Mutu Pendidikan dari Kacamata Guru Daerah Pedalaman

Realitas pendidikan di Indonesia semakin tertinggal dari negara lain. Kenyataan ini seharusnya menjadi perhatian serius dari pemerintah pusat. Penerapan kurikulum yang tidak tetap meyebabkan terjadinya kerancuan dalam penyampaian materi. Karenanya pembenahan sistem pendidikan harus dilakukan sedini mungkin agar dunia pendidikan di Indonesia dapat berdiri sejajar dengan negara maju lainnya.

Terjadinya ketimpangan antara program pemerintah dengan realitas yang terjadi dilapangan. Minimnya tenaga guru tidak sebanding dengan jumlah murid merupakan masalah yang sangat serius. Dimana dalam satu sekolah, terutama sekolah yang berada didaerah terpencil memiliki ketersediaan guru yang minim.
Para guru harus mengajar enam kelas setiap harinya, padahal tenaga guru yang tersedia hanya dua orang. Kalau berbicara mengenai efektivitas sangat jauh dari harapan. Namun itulah tuntutan yang harus mereka alami. Itu adalah sebagian dari permasalahan rendahnya mutu pendidikan di Indonesia.
Masa kejayaan pendidikan di Indonesia terjadi pada 1970-an. Dimana minat negara tetangga untuk menuntut ilmu ke negara kita sangat tinggi sekali. Tetapi sekarang keadaan berubah 180 derajat. Disiplin ilmu negara tetangga melesat laju dengan pesat. Beranjak dari titik nol, meninggalkan Indonesia.
Bangsa Indonesia seolah-olah merasa malu belajar dengan negara tetangga, seperti Malaysia. Namun itulah kenyataan yang ada, jika pemerintah Indonesia mau meniru sistem pendidikan yang ada di Malaysia, mungkin pendidikan kita bisa sedikit maju.
Salah satu cara yang dilakukan oleh Malaysia untuk mengatasi kekurangan guru yaitu dengan membentuk mobile teachers.
Dengan dibentuknya mobile teachers cukup efektif dalam mengatasi kekurangan guru. Mereka dikumpulkan dalam suatu wadah yang terorganisir. Sehingga jika disuatu daerah kekurangan guru mereka siap terjun kelokasi secara bergantian tergantung sekolah tersebut memerlukan guru bidang studi apa.
Pemerintah Indonesia seharusnya layak belajar dengan sistem pendidikan yang telah diterapkan oleh pemerintah Malaysia. Walaupun sebelumnya mereka ‘berkaca’ pada sistem pendidikan yang ada di Indonesia.
Berkaca Pada Malaysia
Sejarah baru ditoreh negara Malaysia ketika salah satu putra terbaiknya ikut serta di dalam penerbangan luar angkasa pada 2007 lalu. Sheik Muszaphar Shukor, merupakan angkasawan dari Malaysia yang terpilih dari 11.000 calon yang mendaftar.
Setelah mengikuti latihan di Star City, Rusia dan mengikuti latihan terahir di Kosmodrom Baikonur, Kazakhstan. Shukor lepas landas ke luar angkasa pada 10 Oktober 2007 selama 12 hari bersama Yuri Malenchenko (Rusia) dan Peggy Whitson (AS) menggunakan Soyuz TMA-11.
Selain mengikuti penerbangan luar angkasa, Shukor yang berprofesi sebagai dokter juga mengadakan percobaan di bidang kesehatan di dalam International Space Station (ISS) atau Stasiun Angkasa Internasional. Percobaan tersebut mengenai karakteristik dan perkembangan sel-sel kanker hati dan leukimia serta kristalisasi berbagai protein dan mikrobia pada gravitasi rendah.
Pencapaian yang telah diukir oleh Shukor patut menjadi bahan koreksi bagi sistem pendidikan di Indonesia. Dimana Malaysia yang awalnya ‘berguru’ pada Indonesia, ternyata melangkah jauh melewati gurunya.
Mau tak mau, Indonesia harus menyusun satu persatu cermin pendidikan yang sudah retak agar menyatu kembali pada bingkainya. Agar dapat (setidak-tidaknya) berdiri sejajar dengan Malaysia dalam hal pendidikan.
Akan tetapi kenyataannya, menuntaskan permasalahan pendidikan di Indonesia tidak semudah membalik telapak tangan. Banyak keruwetan yang terjadi di sana-sini dan harus dibenahi. Mengenai kurikulum yang masih mencari ‘jati diri’, minimnya ketersediaan guru, kondisi bangunan sekolah yang memprihatinkan, tunjangan guru daerah pedalaman yang tersendat dan masih banyak lagi.
Semua itu merupakan permasalahan yang harus diselesaikan dengan nyata, bukan dengan ayunan tongkat ajaib dan komat-kamit mantra lalu sim silabim abrakadabra.
Sulit Menerapkan Kurikulum
Pada dasarnya kurikulum yang telah ditetapkan oleh pemerintah, untuk meningkatkan kualitas pendidikan di negeri kita. Perubahan pun terus terjadi agar ‘jati diri’ kurikulum dapat diaplikasikan dengan pasti di sekolah perkotaan hingga ke pedalaman sekalipun.
Semua ini dilakukan agar penerapan sistem pendidikan mulai dari perkotaan hingga ke pelosok desa dapat seragam dan tidak terkotak-kotakkan. Sehingga apa yang diterapkan di sekolah perkotaan pun sama dijalankan oleh sekolah di pelosok.
Pemberlakukan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang diterapkan pemerintah mulai 2004 lalu masih berlaku di sekolah-sekolah. Belum usai dengan kualitas pencapaian dari kurikulum tersebut. Pada 2006 lalu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mulai digelontorkan ke seluruh wilayah dengan kekuatan peraturan Menteri Pendidikan.
Menurut Alimus,A.Ma, guru SDN 10 Nyawan, Kuala Behe, Kabupaten Landak, penerapan KBK maupun KTSP di sekolah daerah pedalaman sangat sulit dilakukan.
Penyebabnya menurut Alimus adalah kurangnya tenaga guru dan media pengajaran yang bisa digunakan untuk mengajar. Permasalahan pun tidak berhenti di situ saja. Masih ada kendala lain yang dihadapi oleh para pendidik di daerah pedalaman. Yaitu tidak layaknya fasilitas tempat tinggal dan penggunaan buku ajar yang masih belum terfokuskan pada satu penerbit.
Hal ini menjadi suatu kerancuan dalam mengajar. Belum lagi dengan latar belakang pengajar yang tidak sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya. “Saya mengajar semua bidang mata pelajaran, padahal latar belakang pendidikan saya agama,” ujar Alimus. Akan tetapi tidak pernah menjadi persoalan bagi Alimus, karena menurutnya, siapa lagi yang mau berkarya di daerah pedalaman.
Tidak Mengharapkan Yang Muluk-Muluk
Dalam mengajar, tentulah ada tujuan yang ingin dicapai. Baik dalam hal program pendidikan yang dijalankan maupun tujuan personal dari pengajar. Yang ingin melihat anak didiknya dapat menjadi orang yang pandai dan mengabdi pada Nusa dan Bangsa.
Begitu pula bagi Alimus. Dirinya tidak mempunyai target setinggi langit dalam mengajar. Cukup agar anak didiknya bisa mengenyam pendidikan dasar. Dan mengerti baca, tulis dan hitung.
Alimus mengatakan hal itu dikarenakan keadaan yang dihadapinya dilapangan. Kondisi dunia pendidikan di daerah perkotaan dan pedalaman, ujar Alimus, bagaikan langit dan bumi. Sangat jauh berbeda.
Menurut Alimus, bila di perkotaan anak-anak didik sekolah dasar bisa menerima materi pelajaran yang diajarkan dengan mudah. Anak didik di pedalaman harus berusaha dengan ekstra untuk itu semua. “Bayangkan saja, anak didik di pedalaman relatif bisa baca setelah berada di kelas 4,” ujarnya.
Ketika berada di kelas I, ujar Alimus, mereka mulai mengenal huruf. Kelas 2 mulai mengeja. Kelas 3 baru bisa membaca rangkaian kata. Lagi-lagi dikarenakan anak didik di daerah pedalaman tidak melalui tahap Taman Kanak-Kanak atau Play group.
Karenanya, ujar Alimus, jangan bicara tentang mutu pendidikan bila permasalahan yang ada di dunia pendidikan kita belum bisa diatasi. Terlebih, perlu penanganan dengan segera agar dunia pendidikan kita tidak semakin terpuruk.

0 komentar:

Posting Komentar